[unsoed.ac.id, Rab, 4/1/26] Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengukuhkan delapan dokter baru dalam prosesi Sumpah Dokter ke-71 yang berlangsung di Aula Gedung C FK Unsoed, Sabtu 31 Januari 2026. Prosesi tersebut menjadi tonggak awal bagi para lulusan untuk meneguhkan janji pengabdian, profesionalisme, serta integritas moral dalam menjalankan profesi kedokteran di tengah masyarakat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banyumas, Dr dr Prima Maharani Putri MH, menyampaikan bahwa dokter memiliki peran penting sebagai teladan sosial. Menurutnya, profesi dokter tidak hanya dituntut memiliki kompetensi medis, tetapi juga sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Baca Juga: Telaga Warna Dieng Banjarnegara, Pesona Alam Unik dengan Air Berubah Warna Dia mengatakan, setiap tindakan dan sikap seorang dokter akan menjadi sorotan publik. Karena itu, apa yang dilakukan harus sejalan dengan harapan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Unsoed, Prof Dr Ir Noor Farid M.Si, menyampaikan bahwa Unsoed terus mengalami perkembangan signifikan, dengan saat ini membina 106 program studi serta jumlah mahasiswa yang terus bertambah. Ia menambahkan, universitas membuka kesempatan luas bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang profesi maupun pascasarjana.
Di bidang kedokteran, Unsoed telah memiliki empat program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDGS). Pada kesempatan yang sama, Noor Farid juga mengungkapkan rencana pembangunan Rumah Sakit Akademik Unsoed beserta fasilitas laboratorium penunjang guna memperkuat proses pendidikan di Fakultas Kedokteran.
“Kami mohon doa dan dukungannya agar pembangunan rumah sakit akademik dan laboratorium ini dapat segera terwujud untuk menunjang pembelajaran,” katanya. Ia menegaskan, pengembangan fasilitas tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, serta pelayanan kesehatan. Selain itu, para dokter baru juga diingatkan agar lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial.
Di tengah derasnya arus informasi digital, dokter dituntut mampu memilah informasi secara kritis dan bertanggung jawab. “Tantangan ke depan semakin kompleks. Tidak semua informasi di media sosial dapat dipercaya, sehingga harus digunakan secara bijaksana,” ujarnya.
