[unsoed.ac.id, Jum, 4/6/26] Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Laboratorium Pertunjukan dan Seni bersama Pusat Riset Budaya, Kearifan Lokal, dan Agama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed terus memperkuat upaya pelestarian sastra Jawa melalui penyelenggaraan talkshow budaya dan Lomba Maca Geguritan Tingkat SMA/SMK/MA Se-Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan talkshow bertajuk “Membumikan Geguritan di Era Kini, Mungkinkah?” yang diselenggarakan pada Kamis (4/6/2026) di Aula Bambang Lelono FIB Unsoed. Kegiatan ini menghadirkan budayawan dan pemerhati sastra Jawa, yakni Wanto Tirta dan Jarot C. Setyoko, serta menjadi ruang dialog mengenai eksistensi geguritan di tengah perkembangan zaman.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, Prof. Dr. Ely Triasih Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan budaya lokal agar tetap relevan bagi generasi muda.
“Fakultas Ilmu Budaya siap menjadi ruang diskusi dan pengembangan seni budaya, khususnya budaya Banyumasan. Warisan budaya harus terus dihidupkan melalui pendidikan, dialog, dan kreativitas,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Kepala LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng., menambahkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan dukungan riset dan kolaborasi lintas pihak.
“Riset dan budaya tidak dapat dipisahkan. Pengembangan kebudayaan memerlukan kajian ilmiah, sementara hasil riset harus mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed dan Pusat Riset Budaya, Kearifan Lokal, dan Agama LPPM Unsoed juga menyelenggarakan Lomba Maca Geguritan Tingkat SMA/SMK/MA Se-Indonesia yang diikuti 66 pelajar dari berbagai daerah. Kompetisi ini menjadi wadah apresiasi sekaligus edukasi bagi generasi muda dalam memahami dan menghayati geguritan sebagai bagian dari sastra Jawa.
Ketua Laboratorium Pertunjukan dan Seni FIB Unsoed, Exwan Andriyan Verrysaputro, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya kampus menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai sastra daerah.
“Geguritan bukan sekadar karya sastra, tetapi juga representasi nilai, kearifan, dan identitas budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan bahwa sastra daerah tetap relevan untuk dipelajari dan dikembangkan,” ujarnya.
Proses penilaian lomba dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas Wanto Tirta, Asti Pradnya Ratri, dan Cipto Subroto dengan mempertimbangkan aspek pelafalan, penghayatan, ekspresi, teknik pembacaan, serta pemahaman isi geguritan.
Berdasarkan hasil penilaian, dewan juri menetapkan para pemenang sebagai berikut:
Juara I: Talita Veda Azaria — SMA Negeri 1 Banyumas
Juara II: Zhafira Nuria Anggali — SMA Negeri 1 Candiroto
Juara III: Hanin Miyo — SMA Negeri 1 Majenang
Ketua Pusat Riset Budaya, Kearifan Lokal, dan Agama LPPM Unsoed, Imam Suhardi, S.S., M.Hum., berharap kegiatan ini dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap sastra daerah sekaligus memperluas ruang pelestarian budaya lokal.
Melalui talkshow dan lomba geguritan ini, Unsoed menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem kebudayaan melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi, agar geguritan tidak hanya menjadi warisan budaya yang dikenang, tetapi tetap hidup, berkembang, dan membumi di tengah masyarakat.
#unsoedberdampak #sdgs4 #sdgs11 #sdgs17


